Kenangan Secangkir Kopi "Penghujung Hari bersama Penikmat Hujan"
    Kenangan Secangkir Kopi

Dipenghujung sore ini gerimis turun perlahan, dari kejauhan nampak kabut mulai datang menemani rintik hujan. Suasana semakin dingin kurasa, aku tak ingin menerobos hujan hanya untuk bisa pulang secepatnya kerumah. Tiada hal terindah yang bisa dilakukan ketika hujan selain menikmati secangkir kopi sambil menatap rintiknya dari balik jendela kaca. Aku tak ingin melewatkan hujan kali ini dengan menyusuri jalan dibawah rintiknya, tidak akan. Aku akan menikmati datangnya hujan hingga selesai nantinya dengan duduk di tempat dimana aku tak harus basah kuyup dibuatnya.
Tempat yang akan ku datangi ketika seperti ini adalah “Caffe Senja” yang letaknya tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Tak menunggu waktu lama, aku segera bergegas meuju Caffe, memesan seangkir kopi dan duduk di tempat dimana biasanya aku duduk.
Secangkir kopi hitam telah tersaji dihadapanku. Aroma khas yang menyepul dari asapnya membuatku nyaman seketika. Kopi selalu menjadi bagian paling istimewa disetiap hariku yang biasa saja. Secangkir kehangatan, teman setia dikala hati merasa sepi. Kopi hitam bercangkir putih, menemani penghujung hari dengan perasaan kelam dan perih.
Kuhirup aroma kopi perlahan, lalu meneguknya pelan-pelan. Aku ingin menikmati tetes demi tetes nya yang mengguyur tenggorokanku ini dengan penuh perasaan. Dari tegukan yang telah kutelan, rasa nyaman menghampiri secara perlahan. Kenyamanan dari tetesan kopi hitam. Rasa nyaman yang hadir bersamaan dengan tatapanku yang tertuju ke ujung sana, lalu.. ingatanku melayang, menuju saat-saat indah bersamanya.. Tentangnya …
……………………………………………..
Suatu Sore 14 Oktober Kala itu..
Hujan turun dengan begitu lebatnya, semua orang berlari mencari tempat berteduh, begitupun denganku. Aku berlari kecil sambil menempatkan tas diatas kepala untuk melindungiku dari rintik hujan. Mencari tenpat yang pas untuk berteduh smentara agartak basah terkena hujan, lalu aku berdiri di depan Caffe. Tak menungguu waktu lama, akupun memasuki nya. Menunggu hujan reda sambil menikmati secangkir kopi. Dalam bayanganku ini akan menjadi hal yang tak membosankan.
Secangkir kopi dibawa dengan hati-hati oleh salah seorang wanita menuju meja ku. Dia salah satu karyawati disini, bisa kupastikan itu dari baju yang ia kenakan saat ini. dengan senyum manis dan tutur kata ramahnya, dia mempersilahkan secangkir kopi yang dia bawa kepadaku. Aku mengangguk sambil membalas senyuman nya.
Kupandangi kopi yang berada tepat dhadapanku saat ini, menghirup aroma nya pelan-pelan lalu meneguknya perlahan. Lalu aku menatap ke arah jendela, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan dalam keadaan hujan. Mereka yang hujan-hujanan aku yang merasa kedinginan, aneh memang. aku terus memandangi luar jendela, hingga tba-tiba..
“Maaf ya mas, aku ikut duduk disini. Mau duduk di meja sebelah tapi sudah ada sepasang kekasih yang mendudukinya.” Ucap seorang cewek yang datang entah dari mana.
“Bukankah masih ada meja lain yang kosong, Mba?” tanyaku kemudian. Aku merasa heran, ada banyak meja yang masih kosong tapi kenapa dia memilih duduk disini, tempat yang sudah aku singgahi sedari tadi.
“iya masih banyak yang kosong mas, tapi yang berada disebelah jendela sudah isi semua hanya ini yang kosong. Ngga kosong juga si, ada mas nya tapi bangku di hadapanmu ini kan kosong jadi boleh ya aku duduk disini.” Ucapnya sambil mengatur posisi duduk tepat di hadapanku. Kali ini aku dengan nya seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati secangkir kopi dengan nuansa romantis.
“emangnya kenapa kalo di dekat jendela, Mba?”
“kalo di deket jendela aku bisa dengan mudah menikmati indahnya hujan.” Ucapnya sambil tersenyum ke arah luar jendela. Aku melihat matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan kata-kata itu. Dia benar-benar tulus mengungkapkannya. Lalu akupun mempersilahkan duduk, ya meskipun sebenarnya sudah duduk sedari tadi, dan setidaknya dia bisa menjadi teman mengobrol jika memang dia bersedia. Jika memang tidak, setidaknya ada pemandangan lain selain menatap langit yang menghitam.
“oh iya, kenalin mamaku Annisa.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan. Aku menyambutnya dengan ramah.
“Fahri.” Ucapku sambil tersenyum. Seketika aku kaget ketika bersalaman dengannya, tangan nya dingin banget seperti es.
“Tangan nya dingin banget mba, baru dikeluarin dari kulkas?” Tanyaku sambil becanda basa-basi.
“ Hahaha.. apaan si, emangnya daging mentah. Tadi aku abis ujan-ujanan jadi dingin gini. Nih pakaian juga basah kuyup. Oh iya, jangan manggil mba. Panggil aja Nisa. Lagian kita masih se perantaran kan.” Jawabnya sambil tertawa mendengar celoteh ku. Senyumnya Manis banget. Ternyata dia pribadi yang asik, crewet, banyak omong dan ngga bisa diem. Itu bisa terlihat dari caranya berbicara sebanyak itu padahal baru aja ketemu.
Beberapa saat keudian pelayan datang, membawakan kopi yang Nisa pesan. Sesaat setelah tersaji dimeja, Nisa langsung mengangkatnya dan menggenggam dengan erat cangkir berisi kopi itu. Tujuannya tentu saja agar tangan nya merasa hangat. Sesekali ia meneguknya dengan pelan, lalu kembali menghangatkan tangan nya.
Aku hanya bisa memperhatikan tingkah lakunya yang unik itu, aneh namun beda. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan nya. Untuk beberapa saat sama-sama diam tanpa kata, sibuk dengan pikiran maing-masing.
“kamu suka hujan ngga?” Tanya nya tiba-tiba membuatku kaget. Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaan nya.
“aku suka menatap hujan ari balik jendela seperti ini, menikmati sejuknya tanpa harus merasakan secara langsung tetes nya. Apa kamu menyukanya?” jawabku seadanya, tak lupa menanyakan bagaimana dengannya. Apa diapun menyukainya dengan cara yang sama denganku.
‘’Aku suka hujan, sangat suka malah. Ingin rasanya seperti ini, bisa duduk dengan manis menikmati indahnya hujan yang turun tanpa henti. Tak hanya itu, aku pun suka menikmati hujan secara langsung. Menikmati tetes demi tetesnya yang menyapaku dengan lembut. Aku selalu merasa bahagia bersama hujan.” Dia menjawab, kembali dengan tatapan yang berkaca-kaca. Terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Aneh, ketika dia mengucapkan kata “bahagia” raut mukanya langsung berubah menjadi sedih dan murung, matanya menyimpan air mata yang hampir tumpah.
Sebentar sedih, sebentar bahagia, lalu crewet lagi setelahnya. Orang macam apa yang ada di hadapan ku sekarang ini. Dalam kebahagiaan yang meluap-luap, dia bisa langsung bersedih dalam sekejap. Rasa penasaran bener-bener menyelimutiku kali ini, semakin lama mengobrol semakin ingin tau dengan detil tetang dirinya.
Detik terus berjalan, waktu semakin berlalu. Aku masih sibuk mengobrol dengan nya, menertawakan candaan-candaan sedehana, lalu sama-sama terdiam tat kala dia mengatakan hal-hal yang sedikit sendu. Aku tak paham dengan sesuatu yang dia sedihkan, sebab dia mengungkapkan nya dengan kata-kata kiasan, dia cewe yang puitis. Bahkan hanya untuk mengungkapkan hal sederhana sekali pun dia menggunakan kata-kata yang begitu indah,namun sulit untuk diterka.
Asik mengobrol, sampai sama-sama lupa waktu. Tak terasa sore telah berlalu dan langit sudah benar-benar menghitam sepenuhnya. Hujan pun telah reda, namun dingin nya masih terasa. Pakaian yang Nisa kenakan pun telah kering, juga dengan kopi di hadaan kami yang telah dingin. Berniat ngopi, justru asik mengobrol sampai kopinya dingin.
Annisa meneguk kopi yang masih tersisa di cangkirnya, dia benar-benar tak ingin melewatkan setetespun kopinya tertinggal di cangkirnya. Baginya meminum kopi harus sampai pada tetes terakhirnya. Sebab disanalah kesipulan dari berbagai cerita bisa kau dapatkan. Tak lupa dia pun menyuruhku menghabiskan kopi miliku ini. Dia kembali menggulangi ucapan nya bahwa kesimpulan dari semua cerita hanya akan kau dapatkan pada tetes terakhirnya. Aku tak begitu paham dengan maksudnya, namun aku tetap melakukan nya.
Sesaat setelah itu, dia bangkit dari tempat duduknya. Beranjak pergi dari hadapanku. Aku menahan nya, kupegang tangan nya dari belakang.
“Boleh aku meinta nomer ponsel mu?” pintaku sambil memegangi lengan nya.
“Untuk apa?” tanyanya sambil menyernyit kan kening.
“Untuk bertukar kabar, Jika nanti sama-sama ada waktu luang tentu kita bisa bertemu dan ngopi bareng seperti ini.” Jawabku sambil tersenyum.
“Jika ingin menemuiku, datang saja kesini. Aku selalu datang kesini. Menghabiskan secangkir kopi sambil menatap gugusan awan hitam yang datang dan menghadirkan hujan.” Ucapnya sambil membalas senyumku.
“Selalu kesini?” tanyaku memastikan.
“Iya, tempat dudukmu itu adalah kursi yang selalu aku singgahi ketika berada disini, tak ada kursi lain. Aku hanya suka kursi itu.” Jawabnya, sambil menunjuk tempat duduk ku.
“Kapan kita bisa ketemu lagi disini?”
“Kapanpun, jika nantinya ingin menemuiku. Datang saja kesini, dan duduk dibangku ini. Nanti kita bisa kembali duduk berhadapan seperti tadi. Aku selalu mendoakanmu semoga selalu baik-baik saja agar bisa sering menemuiku disini.” Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku melirik ke atas meja, dia meninggalkan secarik kertas berisi puisi. Lengkap dengan tanda tangan darinya. Juga terdapat namaku dalam puisi ini.
Seingatku dia hanya mengobrol denganku, bercerita ini itu dan juga becanda hingga sama-sama tertawa terpingkal-pingkal bersama. Lalu kapan dia menuliskan puisi ini? Ini bukan tulisan lama, ini tulisan yang masih baru. Juga ada namaku tentu saja baru tadi dia tulis setelah mengenalku. Ah aneh memang. tapi Aku tak ingin memikirkan ini terlalu jauh. Lebih baik bergegas pulang karena waktu sudah malam. Besok aku akan kesini lagi, semoga saja besok bisa menemuinya lagi Disini.

……………………

Itulah cerita tentangnya kala itu, yang membuatku baper seketika.
Cerita tentang pertemuanku dengan Annisa yang terjadi di tempat ini sebenarnya sudah sangat lama. Namun setiap kali aku berada disini, cerita tentangnya selalu terngiang di pikiranku. Rasanya baru kemarin terjadi, cerita bersamanya kala itu selalu bisa ku ingat dengan detil. Kini 6 bulan sudah berlalu setelah pertemuan itu, namun tak pernah sekalipun dia kembali kesini. Padahal sejak pertemuan sore itu, aku tak pernah melwatkan satupun weekend tanpa datang kesini. Bahkan ada kalanya seminggu tiga kali kesini, duduk di bangku ini.
Aku sempat berfikir kalo itu pertemuan pertama sekaligus pertemuan terakhir dengan nya, Namun dalam setiap doaku, aku selalu berharap agar bisa bertemu denganya lagi, lagi dan Lagi.