Bertemunya Dua Hati yang Merindu – “ Senja Di Pelupuk Mata Adinda”

Cerpen Cinta dan Kerinduan -Bertemunya Dua Hati yang Merindu -  “ Senja Di Pelupuk Mata Adinda”
Cerpen Cinta dan Kerinduan – Bertemunya Dua Hati yang Merindu – “ Senja Di Pelupuk Mata Adinda”

Hari sudah hampir sore, ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk keluar dari rumah. Menyegarkan otak yang seharian harus kupacu untuk berfikir dengan keras. Ini Hari sabtu, sebenernya libur sekolah dan seharusnya pula aku liburan bukan menyibukan diri dengan urusan sekolah. Namun tugas menumpuk begitu banyak, mau tak mau aku harus  mengerjakan nya hari ini agar bisa selesai dengan cepat. Seharian menghabiskan waktu dikamar dengan mengerjakan berbagai tugas membuatku jenuh, itulah mengapa kali ini kuputuskan untuk keluar rumah mencari udara segar. Sekalian cuci mata.

Setelah memberesi buku yang berserakan, juga mengumpulkan kertas-kertas yang masih berantakan, aku bergegas mandi. Refreshing pun harus dalam keadaan ganteng maksimal, hehe. Tak lupa ganti pakaian, jaga-jaga siapa tau pas lagi jalan-jalan sore ketemu cewe cantik yakan, apapun harus dipersiapkan.

Setelah mandi dan ganti pakaian, Waktunya jalan-jalan sore mencari inspirasi. Tujuan pertamaku ke taman yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Di sana aku bisa bertemu orang lain yang juga jalan-jalan sore, ada juga anak-anak kecil yang menghabiskan waktu bermain nya disana. Dan yang paling aku suka adalah banyak juga cewe-cewe yang jalan-jalan disana ketka sore cerah seperti ini.

Teman-teman yang lain mungkin sedang bermain bola sekarang ini, ketika akhir pekan dan cuacanya sedang cerah mereka menghabiskan waktunya dengan bermain bola, terkadang akupun ikut bermain dengan mereka. Namun hari ini, sedang malas berlari-lari dan berkeringat lebih, mendingan jalan-jalan melihat hijaunya pemandangan taman. Juga melihat indahnya ciptaan tuhan berupa cewek-cewek manis yang sekedar lewat di taman, hehe.

Sesampainya di taman, aku berjalan menyusuri pinggiran yang terdapat pohon-pohon meranggas. Meranggas adalah saat dimana pohon-pohon menggugurkan daun-daun nya untuk mengurangi penguapan demi bertahan hidup. Beberapa pohon  yang sering meranggas adalah pohon Petai, Pohon Mahoni, Pohon jati dll. Di sepanjang jala pinggiran taman banyak pohon mahoni, disaat musim kemarau seperti saat ini sudah pasti meranggas. Ada keindahan tersendiri ketika melihat dedaunan berguguran seperti ini. Pohon jati yang daun nya sedang menguning dan berguguran seperti ini jadi mengingatkanku dengan drama korea yang menampilkan autumn atau musim gugur.

Aku selalu bisa nikmati sebuah keindahan meski dengan cara yang sederhana. Seperti halnya kali ini, sesederhana dedauan yang berguguran seindah itu dalam pandangan. Untuk hal seperti ini kembali lagi pada selera, tingkat keindahan setiap orang berbeda-beda. Bagi orang lain menatap hal seperti ini mungkin biasa saja, sedamgkan bagiku sangatlah indah.

“menghayal lagi berada di Korea menikmati musim gugur ya, Zal?” ucap seseorang dari belakangku. Ah ternyata aku tak sendirian disini. Aku tak buru-buru menoleh, memastikan siapa yang berada dibelakangku dengan mengingat suaranya.

“Dinda. Sejak kapan kamu berada disini?” ucapku sambil berteriak memanggil namanya. Aku kaget ketika mendapati Dinda berada dibelakangku saat ini. Dinda adalah teman semasa kecilku, juga mantan pacarku tiga tahun yang lalu. Dia pindah keluar kota yang letaknya sangat jauh, sehingga aku terkejut ketika mengetahui dia berada disini saaat ini.

“Aku baru kesini tadi pagi, Zal. Niatnya tadi mau kerumahmu, tapi kesini dulu. Eh malah ada kamu disini yaudah kebetulan.” Jawabnya sambil tersenyum.

Oh iya, Namaku Rizal, semua orang memanggilku Riza. Kecuali Dinda, Dia  memanggilku dengan sebutan “Izal tau Zal” hanya dia yang memanggil ku seperti itu. Jadi wajar saja ketika mendengar panggilan seperti itu aku langsung bisa memastikan kalo itu Dinda.

“Harusnya tadi kerumahku dulu. Ketemu sama bapak dan ibuku, mereka pasti kangen banget sama kamu Din.”Ucapku sambil berjalan mendekatinya.

“Orang tuamu atau kamu nih yang kangen?” ucapnya sambil tersenyum dan meledek ku.

“Orang tua nya lah, anak nya mah biasa aja. Ngga ada kangen-kangen nya sama sekali. Hehe” ucapku membalas ledekan nya tadi.

“terserah mau ngomong apa, intnya si aku tau banget kalo kamu bener-bener kangen. Matanya aja masih berkaca-kaca. Wlee” balasnya lagi. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban nya. Dia memang paling mengenaliku, aku tak pernah bisa membohonginya, karena apapun yang aku katakan dia selalu mengerti mana yang benar dan mana yang salah.

Kini aku dengan nya berjalan dari tempat yang mirip dengan musim gugur ini menuju bukit yang letaknya di ujung taman. Bukitnya tak terlalu tinggi namun tempatnya strategis, disore hari seperti ini selalu tersaji pemandangan yang indah. Aku dengan nya berniat kesana sekarang juga.

Tak butuh waktu lama, aku dengan nya pun sampai di atas bukit. Dari sini kita bisa melihat kedepan sana dengan jelas. Dari sini pula kita bisa memperhatikan pengunjung taman dibawah sana dengan jelas pula, bisa juga melihat rumah-rumah yang berada dibawah sana.

Sesampainya diatas bukit, aku duduk bersebelahan dengan Dinda. Menatap burung-burung yang terbang bergerombol hendak pulang menuju sarang nya. Dinda sibuk menatap layang-layang yang masih melayang dengan tenang. Dia menatap layang-layang itu dengan tatapan berkaca-kaca, terbawa suasana hingga hampir menangis. Aku mengerti perasaan nya sekarang.

Berada diatas bukit ini sambil menatap layang-layang memang hal yang paling disukai Dinda, apalagi ketika langit mulai oren kemerah-merahan, baginya menjadi kebahagiaan paling lengkap yang bisa dia tatap. Hal yang sekarang dia tatap adalah layangan yang masih berada diatas meskipun hari sudah sore, ditambah hadirnya senja yang kian membuat ujung hari semakin indah. Kini dia benar-benar meneteskan air matanya. Mungkin dia sangat merindukan moment indah seperti ini.

Dahulu ketika aku masih menjalin hubungan dengannya, juga ketika dia belum pindah ke kota lain, kami selalu menikmati hal serupa dengan apa yang kami tatap sekarang. Sama persis dengan ini, yaitu Gerombolan burung-burung yang hendak pulang menuju sarangnya, layang-layang yang masih melayang serta Indahnya Jingga di ufuk barat barat yang menghias langit dengan pesona nya. Dan satu lagi, menikmati semua itu bersama orang yang spesial. Lengkap memang.

Di kota yag dia tempati setelah berpindah tak ada pemandangan seindah ini. Dia tak bisa melihat anak-anak kecil menerbangkan layang-layang. Tak bisa melihat burung-burung yang terbang bersama kawanan nya menuju sarang nya. Tak ada bukit yang bisa dia singgahi untuk bisa menatap indahnya Senja di ujung hari, dan tentu saja tak ada diriku yang melengkapi semua keindahan itu dan menemenainya menikmati semua keindahan nya bersama-sama.

Kali ini aku dengan nya bisa kembali menikmati keindahan serupa, namun sayangnya dengan perasaan yang berbeda. Aku masih mencintanya, sedangkan dia entah mencintai siapa.

 Keindahan Senja di ufuk barat kini berpindah, mengalir di pelupuk mata Adinda.