Dingin air membelai kemesraan di dalam heningnya rasa, ombak kecilmu membangunkanku dari perasaan gelap yang teramat menyiksaBebatuan kecilmu sungguh amat mempesona, menjadi pijakan yang kokoh dalam sejuta kesakitanKini aku tahu bahwa rerumputan di sekitarmu amatlah lembut dalam pelukanDan akan kutepati semua perasaan yang dulu hilang untuk kembali menggapai pemiliknya


Kini waktu yang mengikat hati untuk tetap berada di tempatnyaTak usah meratapi dinding tinggi, cukup di sini kembali menjadi cahaya dalam ketakutanKau tak usah beranjak dari tempat tidurmu, hadirlah kemari dengan eratan lentera di tanganKemarilah, kemarilah, dan ciptakan sebuah canda tawa agar bibir ini terpikat kerinduan


Tatapan pertama adalah sejuta warna yang memulai hari untuk selalu kembaliIndah matamu, ya itulah yang ingin kupandang disetiap memulai hariHembusan nafas yang menyentuh selimut selalu menjadi pertanda kaumasih tetap di siniTak hanya disetiap pagi, namun hadirmu bagai terang Sang Mentari yang terasa hangat dan indah pada sore hari
Kembali ke tempat tadi dimana diri ini termakan oleh putaran lidah yang salah melangkahKan terbayar sebuah kisah indah dalam jeritan susah yang dulu ingin kurubahSang Saka masih berkibar di atas tiang, mana mungkin diri ini akan merasa kalahTakan ada kekalahan jika perasaan tak pernah kauhadirkan sebuah ego untuk membenci dunia


Animasi kehidupan tertera dalam setiap lembaran kisah disetiap hari tanpa pernah terlewatiPagar-pagar masih berdiri kokoh di tempatnya, menjaga binatang buas sepertimu untuk hadirDaging ini masih segar, tak pantas untuk kaukotori dengan nafsumu yang tak habis-habisCukuplah suatu saat nanti, kau akan tersadar berapa lama kau telelap dalam mimpi