Kisah Nabi Yusuf dan Mukjizatnya.
Kisah nabi yusuf dan zulaikha.

Kisah Nabi Yusuf dan Mukjizatnya – Kali ini saya akan menceritakan tentang Nabi Yusuf yang diangkat menjadi Nabi oleh Allah SWT serta tentang Mukjizat menafsirkan mimpi yang dimilikinya.

Yusuf diangkat menjadi nabi oleh Allah setelah menerima beberapa ujian dan cobaan. la diberikan mukjizat, salah satunya adalah dapat menafsirkan mimpi.
Allah memberi Nabi Yusuf tugas untuk menyampaikan dan mengajak manusia agar melawan kezaliman, menegakkan keadilan, mengendalikan nafsu, dan saling mengasihi kepada sesama.

Nabi Yusuf memulai tugasnya berdakwah kepada para penghuni penjara. Di antara mereka, ada dua orang pegawai istana raja
Mesir yang dipenjara karena tuduhan menentang raja.

Ketika bertemu Nabi Yusuf, keduanya menceritakan tentang mimpi yang dialami masing-masing. Orang yang pertama berkata “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.”
Sementara itu, orang yang kedua berkata setelahnya “Sesungguhnya
aku bermimpi membawa roti di atas kepala, kemudian muncul burung gagak dan mematuki roti-roti tersebut. Kami
mohon kepadamu agar engkau manafsirkan arti mimpi kami karena kami yakin engkau adalah orang yang mampu melakukannya.”

Yusuf menjelaskan kepada pelayan pertama, “Wahai Saudaraku, sesungguhnya engkau akan dibebaskan dan dipekerjakan kembali oleh sang raja. Sementara kepada pelayan yang kedua, ia menjelaskan
“Dan engkau Saudaraku, sebelumnya aku mohon
agar engkau tabah karena mimpimu memberitahukan kepadaku bahwa engkau akan menerima hukuman mati.”

Beberapa hari kemudian tafsir Yusuf tersebut terbukti kebenarannya. Sebelum berpisah dengan keduanya. Yusuf berpesan kepada pelayan pertama agar ia menyampaikan tentang kemampuan yang dimiliki Yusuf kepada raja. Akan tetapi, orang tersebut lupa dengan pesan Nabi Yusuf karena setan telah membuatnya lupa. Sejak saat itu, Yusuf banyak didatangi orang untuk menafsirakan mimpi mereka.

Nabi Yusuf pun menggunakan kelebihan yang dimilikinya itu sebagai sarana untuk berdakwah dan mengajarkan kebaikan. Orang-orang pun percaya Yusuf sebagai nabi dan mengikuti dakwahnya.

Pada suatu hari, raja Mesir bermimpi, mimpinya sangatlah aneh. Mimpi itu terjadi berulang-ulang sehingga sang raja mengumpulkan seluruh juru ramal istana. la menanyakan arti mimpinya tersebut.
Raja berkata, “Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang arti mirnpiku itu jika kamu dapat menafsirkan mimpi.”
Para juru ramal yang diundang mulai berpikir. Akan tetapi, seluruh juru ramal tidak ada yang mampu manafsirkan mimpi tersebut.

Sang raja kecewa. la resah dengan mimpi yang dialaminya tersebut. Baru pada saat itulah,
pelayan raja yang mimpinya pernah ditafsirkan oleh Nabi Yusuf teringat kepada Yusuf. Sang pelayan berkata kepada sang raja, “Baginda, saya ingat ketika saya di penjara, ada seorang yang mampu menafsirkan
mimpi dengan tepat. Hal itu telah terbukti kebenarannya. Izinkan hamba menemuinya.” Akhirnya, raja berkenan
mengizinkan pelayan tersebut untuk menemui Yusuf.
Kemudian, pelayan raja itu menemui Yusuf.

Pelayan itu menceritakan mimpi sang raja, “Hai
Yusuf, sesungguhnya raja kami bermimpi dan tidak ada seorang pun yang mampu menafsirkannya. Oleh karena itu, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir yang hijau dan tujuh lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata, “Sahabatku, tafsir mimpi memberitahukan bahwa negeri Mesir akan mengalami masa subur selama tujuh tahun, tetapi kemudian negeri Mesir akan mengalami kemarau panjang selama tujuh tahun pula.”
Pelayan itu berkata “Sungguh situasi yang berat. Lalu, bagaimana cara mengatasi masalah tersebut”
Nabi Yusut berkata, “Simpanlah hasil gandum kalian di waktu musim subur sebagai bekal untuk bertahan di muslin kemarau yang panjang.”

Setelah selesai bertanya dan menjawab soal mimpi, pelayan tersebut berterima kasih dan mohon pamit. la segera menyampaikan tafsir mimpi yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf kepada sang raja. Mendengar penjelasan itu raja sangat senang. Sebagai balasannya, raja memerintahkan pengawalnya agar membebaskan Nabi Yusuf.

Yusuf mendapat kabar bahwa raja akan membebaskannya dari penjara. Akan tetapi, ia menolak dibebaskan sebelum kasusnya disidangkan dan ia diputuskan tidak bersalah.
Kemudian, sang raja kembali mengangkat permasalahan Yusuf. Raja mencoba untuk mencari kebenarannya.

Semua orang yang terlibat dalam masalah tersebut dipanggil dan dimintai kesaksiannya atas peristiwa yang menimpa Yusuf.

Pada saat itulah.
Zulaikha memberikan kesaksiannya. la mengakui bahwa dirinya bersalah.
Pengakuan Zulaikha menjadi bukti bahwa Yusuf memang tidak bersalah.

Akhirnya, Yusuf diputus tidak bersalah dan di bebaskan oleh raja. Yusuf berkata “Yang demikian itu agar Qitfir Al Aziz mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.” Yusuf pun bersyukur kepada Allah karena kebenaran telah bisa dibuktikan. Setelah Yusuf keluar dari penjara, raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku agar aku memilih dia sebagai orang kepercayaanku.”
Yusuf menghadap raja. Terjadilah pembicaraan yang cukup serius. Raja
berkata,” Mulai hari ini, engkau memiliki kedudukan yang tinggi dan terpercaya di sisi kami.”
Mendengar penawaran tersebut. Yusuf berkata kepada raja “Jika memang engkau percaya kepadaku. jadikanlah aku bendaharawan negara. Sesungguhnya, aku mampu menjaga juga berpengetahuan dalam hal tersebut.”

Sejak saat itu, raja mengumumkan jabatan baru Nabi Yusuf, yaitu sebagai bendaharawan negara. Dengan jabatan tersebut, raja memberikan kewenangan kepadanya untuk menjalankan roda pemerintahan. Terutama menangani krisis yang akan terjadi.
Nabi Yusuf bekerja keras untuk melaksanakan amanat dari raja. Di bawah kepemimpinannya, Mesir menjadi negeri yang adil, makmur, dan damai. Selain menjalankan roda pemerintahan, Yusuf juga giat berdakwah menyampaikan ajaran Allah sehingga pengikutnya bertambah banyak dari hari ke hari.

Sebagaimana yang pernah diramalkan Nabi Yusuf, negeri ini dilanda kemarau yang sangat panjang. Banyak rakyat yang kehabisan gandum. Mereka berbondong-bondong datang ke Kerajaan Mesir.

Saudara-saudara Nabi Yusuf yang dulu pernah mencelakainya pun datang ke Kerajaan Mesir. Mereka mencoba untuk meminta bantuan. Mereka mendengar bahwa Kerajaan Mesir memiliki seorang pejabat yang mampu menghadapi krisis yang tengah terjadi. Mereka juga mendengar bahwa di sana mereka bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan. Saudara-saudara Yusuf sampai di Mesir. Mereka langsung menuju kerajaan. Yusuf melihat mereka. la langsung mengenali mereka satu per satu. Akan tetapi, saudara-saudaranya tidak mengenalinya. Lalu, Yusuf memberikan gandum kepada mereka. Yusuf berpesan, jika datang kembali. mereka harus membawa serta saudara bungsu mereka, yaitu Bunyamin.

Mereka merasa heran bagaimana Yusuf mengetahui tentang Bunyamin. Akan tetapi, mereka
tidak terlalu memikirkannya. Permasalahan
mereka lebih besar dibanding dengan memikirkan keanehan tersebut.
Yusuf berkata kepada pegawainya,
“Masukkanlah barang-barang penukar kepunyaan mereka ke dalam karung-karung
mereka, supaya mereka mengetahui-nya apabila mereka telah kembali kepada
keluarganya. Mudah-mudahan merekakembali lagi”.

Sesampainya di kampung halamannya, mereka menyampaikan pesan tersebut kepada ayah mereka, “Wahai Ayah, kami tidak akan mendapat gandum lagi jika tidak membawa Bunyamin. Oleh sebab itu, biarkanlah Bunyamin pergi bersama kami
agar kami mendapat gandum. Kami akan menjaganya dengan baik.”

Mendengar permintaan tersebut, Nabi Yaqub ragu dan tidak percaya. la khawatir peristiwa Yusuf akan terulang kembali.
Akan tetapi, mereka meyakinkan Nabi Yaqub bahwa mereka akan mendapatkan gandum jika membawa serta Bunyamin.

Ketika membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang penukaran mereka dikembalikan kepada
mereka. Mereka berkata, “Wahai Ayah kami, apa lagi yang kita inginkan. ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan
keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan gandum
seberat beban seekor unta. Itu adalah gandum yang mudah (bagi raja Mesir)”
Setelah yakin dengan ucapan anak-anaknya, Yaqub pun kemudian mengizinkan mereka membawa Bunyamin. Yaqub meminta janji dari mereka untuk menjaga Bunyamin dengan sebaik mungkin.
Setelah sampai di kerajaan, mereka disambut baik oleh Nabi Yusuf. Mereka diberikan tempat istirahat yang nyaman.


Mereka merasa senang karena mereka disambut dengan kehangatan.
Sementara itu, Yusuf mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan Bunyamin karena ia telah lama merindukannya.
Akhirnya, kesempatan itu pun tiba. Yusuf mengundang Bunyamin untuk bertemu di ruangannya. Yusuf berkata, “Sesungguhnya
aku adalah saudaramu. Janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Waktunya bagi saudara saudara Yusuf kembali pulang. Mereka bersiap kembali ke Palestina. Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Yusuf memasukkan tempat minum milik kerajaan ke kantong
Bunyamin.

Ketika para pengawal kerajaan memeriksa di pintu keluar kerajaan, mereka menemukan tempat minum milik kerajaan dalam kantong yang dibawa oleh Bunyamin. Hal ini terpaksa membuat Bunyamin ditangkap. Bunyamin tidak bisa pulang bersama saudara- saudaranya.

Saudara-saudara Bunyamin berusaha untuk
bisa membebaskan adiknya. Mereka memohon dengan berkata. “Wahai Tuan, sesungguhnya ia memiliki ayah yang sudah lanjut usia. Oleh karena itu. ambillah salah
seorang dari kami sebagai pengganti adik kami.”
Yusuf berkata, “Sesungguhnya kami menahan adikmu karena ia terbukti telah mengambil barang milik kerajaan. Oleh sebab itu, kami tidak bisa membebaskannya. Jika kalian ingin adik kalian bebas, kembalilah kalian dan bawa ayah kalian ke sini untuk mengambil adik kalian.”
Akhirnya, mereka pulang tanpa membawa serta Bunyamin. Mereka merasa sangat bersalah. Mereka telah berjanji kepada ayah mereka. Akan tetapi mereka tidak mampu
menepati janji. Sesampainya di Palestina, mereka menyampaikan kabar penahanan Bunyamin. Mereka pun menyampaikan permintaan seorang pejabat kerajaan untuk membawa Nabi Yaqub As ke Mesir. Mendengar kabar tersebut, Nabi Yaqub As menjadi sangat sedih hingga ia jatuh sakit dan kedua matanya menjadi buta.
Suatu hari, persediaan gandum kembali habis. Nabi Yaqub kembali memerintahkan anaknya agar pergi ke Kerajaan Mesir. Mereka kemudian berangkat ke Mesir. Sesampainya di sana, mereka menceritakan kondisi yang dialami ayahnya, Nabi Yaqub. Wahai Tuan, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang
membawa barang-barang yang tidak berharga. Ayah kami senantiasa bersedih karena telah kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Setiap hari, beliau menangis sehingga matanya menjadi buta.
Sekarang kami kekurangan makanan. Oleh karena itu, kami memohon kepada Tuan untuk memberikan gandum kepada kami.”

Mendengar kabar tersebut, Nabi Yusuf sangat sedih dan merasa kasihan. la tidak mampu lagi menahan perasaannya untuk
memberitahukan siapa sebenarnya dirinya.
Yusuf pun berkata. “Apakah kalian tahu kejahatan yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya?”
Saudara-saudara Yusuf merasa heran dan kaget. Seorang pejabat yang ada di
hadapan mereka bisa mengetahui tentang
perbuatan yang pernah mereka lakukan.
Kembali Yusuf berkata, ” Tahukah kalian, sesungguhnya akulah Yusuf yang pernah
kalian lemparkan ke dalam sumur.”

Semakin kagetlah mereka dengan kata-kata yang keluar dari seorang yang selama ini mereka anggap sebagai orang lain. Mereka kemudian bertanya dengan ragu, “Apakah kamu benar- benar Yusuf saudara kami?”
Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini adalah saudaraku. Sesungguhnya Allah
telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa yang
bertakwa dan bersabar. Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik.”

Pengakuan Yusuf benar-benar membuat mereka kaget. Mereka semakin yakin
bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Yusuf setelah melihat bukti-bukti
yang ada. Mereka pun kemudian mengakui
kesalahan mereka dan menyesal atas perbuatan yang pernah mereka lakukan.

Akhirnya. mereka memohon maaf kepada
Yusuf.
Yusuf tidak pernah merasa dendam kepada
saudara-saudaranya. la memaafkan mereka
dengan penuh kasih sayang. la memberi mereka makanan dan menitipkan bajunya untuk diusapkan ke mata ayahnya agar sembuh.

Sesampainya di Palestina, mereka menceritakan kabar tentang Yusuf dan memberikan baju titipan Yusuf pada Nabi
Yaqub. Mendengar kabar tersebut. Nabi Yaqub menjadi sangat gembira. Ketika baju
Yusuf diusapkan ke matanya tiba-tiba saja matanya sembuh dari kebutaan.
Kegembiraan yang dirasakan Yaqub begitu besar. la tak sabar untuk bertemu dengan
anaknya yang telah lama dirindukannya.

Mereka semua berangkat ke Mesir untuk bertemu Nabi Yusuf. Ketika sampai di
Mesir, mereka disambut suka cita oleh Nabi Yusuf.
Nabi Yusuf menaikkan ayahnya di singgasana sambil berkata, “Wahai Ayahku,
inilah tabir mimpiku yang dahulu itu. Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.
Sesungguhnya. Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku
dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku.

Sesungguhnya Tuhanku
Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang
Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”
Beberapa waktu kemudian, karena berhasil mengatasi krisis, akhirnya Nabi Yusuf
diangkat menjadi raja. la memimpin Mesir dengan adil, makmur, dan damai.
Sementara itu, lama tidak terdengar kabarnya. Zulaikha ternyata masih mencintai Nabi Yusuf. Ketika suaminya
telah meninggal rasa cintanya kepada Yusuf semakin kuat. Meskipun usia Zulaikha
semakin matang, pesona kecantikannya tetap memancar.

Zulaekha telah bertobat dan
mengakui kesalahannya. Nabi Yusuf pun tertarik kepada Zulaikha. Akhirnya, keduanya menikah dan hidup bahagia.
Dari pernikahannya tersebut, keduanya dikaruniai dua orang anak bernama Ifratsim
dan Minsya.

Nabi Yusuf meninggal di usia 110 tahun dan dimakamkan di dekat makam Nabi Ibrahim.